Togian.. Hidden Paradise

Tak perlu repot-repot sebenarnya mencari “surga” dunia di Indonesia

Di sekitaran sulawesi utara dan sulawesi tengah punya banyak hamparan pulau-pulau menakjubkan dengan alam bawah lautnya yang luar biasa indah, sebut saja Pulau Sarode dan Pulau Lampu di utara Gorontalo, dan Kepulauan Togian di Sulawesi Tengah. Belum lagi jika ditambah Kepulauan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Sayangnya justru tempat-tempat indah ini lebih dikenal oleh wisatawan asing ketimbang wisatawan domestik. Banyak dari mereka jauh-jauh datang dari Eropa (Jerman, Belanda, dsb) hanya untuk menikmati keindahan Indonesia. Banyak juga pulau-pulau yang jadi resort dan dikelola dengan baik oleh orang-orang asing salah satunya adalah Black Marlin (http://www.blackmarlindiving.com/), tentu ini tamparan sendiri bagi Pemerintah.

Oke, singkat cerita..

2 minggu yang lalu, kami dari kaskuser Regional Gorontalo ingin menikmati keindahan Kepulauan Togian. Kami harus menunggu 12 jam lebih dengan Kapal Ferry dari pelabuhan penyeberangan untuk sampai kesana. Tidak begitu mahal tiket ke Wakai (salah satu pulau di Kepulauan Togian) cukup mengeluarkan uang Rp. 89.000 anda sudah duduk dikursi kelas bisnis. Kapal yang mengangkut kami baru berangkat sekitar pukul 22:00 WITA (Jum’at malam) dan sampai sekitar jam 11:00 WITA (Sabtu siang). Kelaparan melanda kami setibanya di Wakai. Sebenarnya sejak masih di kapal Ferry kami sudah kelaparan, maklum saja kami tidak memprediksi bahwa di kapal ternyata hanya menjual mie instan dan beragam minuman hangat dan dingin. Walhasil begitu turun dari kapal, tujuan kami pertama hanyalah mencari warung makan. Ternyata cukup banyak warung makan di Wakai, dengan harga yang terjangkau pula (Nasi+Ayam+Telur 15 rb saja).

Oh iya, bersama kami juga ada teman asli Tongkabu (masih salah satu pulau di Kepulauan Togian). Rencana awal kami akan berangkat kesana dan menginap disana. Mendapat info bahwa kapal ke Tongkabu baru akan berangkat pukul 16:00 WITA, kami pun tak sabar langsung mencari perahu kecil yang bisa mengangkut kami segera. Setelah cukup lama tawar menawar kamipun memutuskan untuk menyewa sebuah perahu kecil (Katinting kami biasa menyebutnya) untuk membawa kami ke Tongkabu. Setelah 30 menit perjalanan, kami singgah ke pulau Kadidiri. Ternyata sebagian besar diantara kami terpesona dengan keindahan pulau ini. Kamipun lantas memutuskan untuk menetap disini, tidak jadi meneruskan perjalanan ke Tongkabu.

Di pulau kadidiri, terdapat 3 resort yaitu Lestari, Blackmarlin dan Kadidiri Paradise (http://www.kadidiriparadise.com). Setelah bertanya-tanya tentang harga dan fasilitas resort, kamipun memutuskan untuk tinggal di Kadidiri Paradise. Harga resort disini terbilang cukup terjangkau, untuk tinggal di room standard kami hanya perlu mengeluarkan uang Rp.150.000/hari/orang sudah termasuk makan 3x dan speedboat untuk kembali ke Wakai. Pemilik Kadidiri Paradise ini ternyata bukan warga negara asing, dan beliau sudah ada di pulau ini sejak tahun 1970-an. Banyak cerita yang beliau tuturkan kepada kami tentang Kepulauan Togian, sejarahnya, warga asli togian, keindahan pulau dan bawah lautnya dan banyak lainnya.

Aktivitas yang kami lakukan disini tentu saja seputar air, snorkling dan menaiki sampan tak lupa tentunya berfoto-foto ria. Kami tak sempat mencicipi melihat ke dasar laut (diving) dikarenakan keterbatasan uang tunai yang kami bawa, maklum saja disini tidak ada ATM :) .  Di Kadidiri paradise ini, kebetulan hanya kami wisatawan domestik yang datang pada saat itu, yang lain banyak dari Inggris, Jerman dan Belanda. Makanan yang disajikan pun cukup akrab dengan perut Indonesia kami (nyari nasi ujungnya) :) .

Hari minggu siang, kamipun harus segera kembali di Wakai karena kapal Ferry yang akan membawa kami pulang ke Gorontalo akan berangkat Jam 16:00 WITA. Kapal speedboat yang kami tumpangi dari Kadidiri Paradise melaju cukup cepat hanya perlu waktu 15 menit kami sudah sampai di Wakai. Terima kasih kepada pemilik Kadidiri paradise yang harus mengantarkan kami dengan selamat sampai di Wakai.

Dalam hati saya berjanji akan datang kembali ke Pulau-pulau indah di Togian ini..

The  Hidden paradise..

Sekedar Saja

Open Source : Antara idealisme dan realita

Sudah banyak tulisan mengenai open source, gagasan yang pada awalnya diprakarsai oleh Eric Raymond pada tahun 1997 (baca : http://www.opensource.org/history) telah menjadi tongkat estafet penerus konsep sebelumnya yang ditawarkan oleh Richard M Stallman dengan gerakan free software (baca : http://www.fsf.org/about/what-is-free-software) di tahun 1985.

Kedua konsep ini sebenarnya serupa tapi tak sama, jika free software mendifinisikan sebuah software yang sifatnya bebas (free) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  • The freedom to run the program, for any purpose (freedom 0).
  • The freedom to study how the program works, and change it so it does your computing as you wish (freedom 1). Access to the source code is a precondition for this.
  • The freedom to redistribute copies so you can help your neighbor (freedom 2).
  • The freedom to distribute copies of your modified versions to others (freedom 3). By doing this you can give the whole community a chance to benefit from your changes. Access to the source code is a precondition for this.

Sedangkan open source membuat kriteria sebagai berikut :

1. Free Redistribution

The license shall not restrict any party from selling or giving away the software as a component of an aggregate software distribution containing programs from several different sources. The license shall not require a royalty or other fee for such sale.

2. Source Code

The program must include source code, and must allow distribution in source code as well as compiled form. Where some form of a product is not distributed with source code, there must be a well-publicized means of obtaining the source code for no more than a reasonable reproduction cost preferably, downloading via the Internet without charge. The source code must be the preferred form in which a programmer would modify the program. Deliberately obfuscated source code is not allowed. Intermediate forms such as the output of a preprocessor or translator are not allowed.

3. Derived Works

The license must allow modifications and derived works, and must allow them to be distributed under the same terms as the license of the original software.

4. Integrity of The Author’s Source Code

The license may restrict source-code from being distributed in modified form only if the license allows the distribution of “patch files” with the source code for the purpose of modifying the program at build time. The license must explicitly permit distribution of software built from modified source code. The license may require derived works to carry a different name or version number from the original software.

5. No Discrimination Against Persons or Groups

The license must not discriminate against any person or group of persons.

6. No Discrimination Against Fields of Endeavor

The license must not restrict anyone from making use of the program in a specific field of endeavor. For example, it may not restrict the program from being used in a business, or from being used for genetic research.

7. Distribution of License

The rights attached to the program must apply to all to whom the program is redistributed without the need for execution of an additional license by those parties.

8. License Must Not Be Specific to a Product

The rights attached to the program must not depend on the program’s being part of a particular software distribution. If the program is extracted from that distribution and used or distributed within the terms of the program’s license, all parties to whom the program is redistributed should have the same rights as those that are granted in conjunction with the original software distribution.

9. License Must Not Restrict Other Software

The license must not place restrictions on other software that is distributed along with the licensed software. For example, the license must not insist that all other programs distributed on the same medium must be open-source software.

10. License Must Be Technology-Neutral

No provision of the license may be predicated on any individual technology or style of interface.

Jika ditarik benang merah dari kedua konsep tersebut, maka setidaknya software itu dikategorikan F/OSS (Free Open Source Software) jika memenuhi prinsip-prinsip bebas menyebarluaskan, memodifikasi dan mendistribusikan kembali hasil modifikasi.

Konsep ini sangat baik jika ditinjau dari prinsip-prinsip keterbukaan dan berbagi, suatu konsep yang sangat modern sekaligus sinkron dengan laju perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat, di saat mata tertuju kepada booming-nya era social networking yang menunjung tinggi nilai-nilai keterbukaan dan berbagi.

Konsep ini pula, sebenarnya cocok untuk para pengembang software yang ingin menguji sejauh mana kinerja software yang dibuat tanpa mengeluarkan biaya yang cukup banyak, sebarkan kepada komunitas dunia maya maka dalam waktu yang sangat cepat umpan balik dari pengguna akan didapatkan.

Namun, tidak serta merta konsep ini disukai oleh banyak pihak, bagi beberapa pelaku bisnis lisensi (hak pakai software) tentu konsep ini sangat mengganggu roda bisnis mereka, ancaman ini mengharuskan mereka memutar otak untuk merangkul para konsumennya untuk tunduk dan patuh dengan gaya bisnis mereka. Maka muncullah beragam tawaran pelatihan dan sertifikasi menggiurkan bagi para penggunanya (tentunya tidak ada yang gratis disini), melobi para penentu kebijakan (legislatif maupun eksekutif) agar tetap mendukung bisnis yang mereka jalankan dan beragam cara lainnya.

Bagi para pengguna dan developer tentunya, kedua “kiblat” ini adalah realita yang ada sekarang dan akan terus berlanjut. Pengguna dituntut lebih cerdas dalam memilih “kiblat”, idealisme antara “uang” dan “pahala” sering dibenturkan. Begitu pula dalam merubah budaya menggunakan software yang legal, seringkali dihadapkan pada realita bahwa belum semua F/OSS memenuhi kriteria user friendly yang mengakibatkan pengguna akan kembali pada prinsip tidak mau repot dan malas belajar. Perlu ada upaya bersama untuk menyadarkan penggunaan software legal terlebih lagi pemahaman yang lebih dalam mengenai konsep F/OSS

Open Source, Sekedar Saja

Oh.. hujan yg menyejukkan..

Bumi merindukan dirimu..

Basahi tanahku yg gersang oleh dendam dan amarah..

Memancing cinta dan kasih untuk tumbuh subur..

Gorontalo, 4 Desember 2011

Sastra Gagal

Gorontalo (akhirnya) punya Mall

Gorontalo punya mall ga sih ? =unpublished name=

Hir.. selagi masih “disini” (sudah melalui sensor :p) lu nikmati aja mall disini =unpublished name=

Hir.. di Gorontalo ga ada kayak gini… =unpublished name=

OMG.. Mall paling besar disini ?? Ini mah supermarket di kota kami =unpublished name=

Ya itu hanya beberapa komentar yang kadang membuat telinga saya “geli”. Memang Gorontalo sedang membangun Mall terbesar sepanjang sejarah kota Gorontalo (lebay)

Sebegitu pentingkah suatu kota memiliki Mall ?
Ataukah yang menandakan kota yang maju dan berkembang itu wajib memiliki Mall ?

Bukankah Mall adalah tempat rekreasi bagi mereka yg sudah kehilangan tempat rekreasi sesungguhnya ?

Sekedar Saja

Installasi Senayan Library Management System (SLiMS) di Ubuntu 11.04

Senayan is an open source Library Management System. It is build on Open source technology like PHP and MySQL. Senayan provides many features such as Bibliography database, Circulation, Membership and many more that will help “automating”  library tasks. This project is proudly sponsored by Pusat Informasi dan Humas Depdiknas and licensed under GPL v3. (http://slims.web.id/web/)

Saya menganggap anda sudah melakukan installasi paket-paket untuk Web Server dan Database server.

Langkah-langkah installasinya sebagai berikut :

1. Download rilis terbaru SLiMS disini : http://www.slims.web.id/download/slims3-stable15.tar.gz  Yang saya gunakan disini adalah Rilis SLiMS yang baru yaitu dengan nama rilis Matoa

2. Copy file tersebut ke direktori web (directory root) anda (contoh : /var/www) :

~$ sudo cp slims3-stable15.tar.gz  /var/www

3. Extract file slims dan rename menjadi senayan (agar lebih mudah diingat :p)

~$ cd /var/www 

/var/www$ sudo tar xzvf  slims3-stable15.tar.gz

/var/www$ sudo mv slims3-stable15 senayan

4. Login ke phpMyAdmin kemudian buat database dengan nama senayan 

5. Import file senayan.sql yang ada di dalam direktori (var/www/senayan/install/) ke dalam database senayan

6. Edit File sysconfig.local.inc.php yang ada pada direktori /var/www/senayan/, yang perlu anda edit yaitu baris berikut :

define(‘DB_NAME’,'nama-database’)

define(‘DB_USERNAME’,'nama-user-pemilik-database’)

define(‘DB_NAME’,'password-user-pemilik-database’)

Contoh :

define(‘DB_NAME’,'senayan’)

define(‘DB_USERNAME’,'root’)

define(‘DB_NAME’,'rahasia’)

Jangan lupa menyimpan file tersebut..

7. Copy file konfigurasi virtual host yang sudah ada (default) menjadi (senayan). Letak file tersebut ada di direktori (/etc/apache2/sites-available).

~$cd /etc/apache2/sites-available/

/etc/apache2/sites-available/$sudo cp default senayan

8. Edit file senayan pada direktori /etc/apache2/sites-available/, yang perlu anda edit cukup pada baris berikut :

DocumentRoot /var/www/senayan

Jangan lupa menyimpan file tersebut…

9. Aktifkan virtual host yang baru (file senayan) tersebut :

~$sudo a2ensite senayan

10. Restart service apache web server :

~$sudo /etc/init.d/apache2 restart

11. Selesai, anda dapat mengakses SLiMS dengan membuka URL : http//localhost/senayan pada browser pilihan anda…

 

What Next ?

Bagaimana cara pakainya ?

Dah dolo.. capek tau ngetiknya ini :p

Catatan : Gambar-gambar proses installasi blum diupload jaringan lagi lemot.. :p

 

Library, Linux , , ,

Semesta Mendukung (Mestakung)

Tiga Hukum Mestakung :

Hukum Kritis : setiap kondisi kritis pasti ada jalan keluar

Hukum Langkah : Setiap jalan keluar memerlukan langkah awal dan langkah-langkah selanjutnya

Hukum Tekun : Setiap langkah yang dibarengi dengan ketekunan akan membuahkan jalan keluar

Itulah sedikit banyak 3 hukum mestakung yang ditulis oleh Prof. Yohanes Surya, Phd dalam bukunya Mestakung. Cukup inspiratif buku ini,walaupun buku ini lebih banyak bercerita tentang kontingen Indonesia pada International Physics Olimpiad (IPhO)  dan pada Asian Physics Olimpiad (APhO), bagaimana perjuangan Prof.Yo (panggilan akrab Prof.Yohanes Surya, Phd) dan tim-nya melatih anak2 berbakat Indonesia, mencari sponsor untuk keberangkatan tim, bagaimana jatuh bangunnya tim Indonesia hingga akhirnya menjadi juara dunia di Tahun 2006. Kita patut berbangga menjadi orang Indonesia, karena Indonesia menjadi tuan rumah pertama untuk Asian Physics Olimpiad (APhO) dimana Prof.Yo bersama dengan Presiden IPhO Prof. Waldemar Gorzkowski bekerjasama untuk mengadakan even besar untuk skala asia ini..

Buku ini patut dibaca bagi Siswa, Guru SD-SMA, Mahasiswa dan Dosen..

Bahwa jika usaha dan do’a kita maksimal maka Alam Semesta (atas izin Tuhan YME) akan mendukung..

Buku

[Solved] Masalah plugin UML pada Netbeans 6.9 di Ubuntu 11.04

Jika anda adalah pengguna Netbeans 6.9 yang kesulitan mencari plugin UML setelah baca2 disini akhirnya selesai juga masalahnya. Cukup dengan menambahkan plugins tambahan yang disupport oleh Community dengan cara :

  1. Klik pada Tools -> Plugins -> Settings
  2. Tambahkan “Latest Development Build” pada Update Center dengan cara Klik tombol Add, pada Name tuliskan Latest Development Build, URL : http://deadlock.netbeans.org/hudson/job/uml/lastSuccessfulBuild/artifact/build/updates/updates.xml
  3. Netbeans kemudian akan melakukan update (Ingat anda harus terhubung ke Internet)
  4. Jika sudah selesai update, pada Tab Available Plugins akan ada UML tinggal anda pilih lalu install plugin tersebut

Selamat memodelkan sistem anda :D

Linux

Workshop Kupas Tuntas Android

Sekedar Saja

Tahun Baru ?

Entah sudah berapa kali saya menghabiskan malam pergantian tahun (Masehi) di rumah saja dan memberikan porsi yang besar untuk mengistirahatkan badan ini. Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan pergantian tahun, toh ini hanya pergantian hari biasa saja yang terkadang terlalu didramatisir menjadi hari yang perlu dirayakan dan waktunya untuk berpuas berpesta semalam suntuk.

Bagi saya sendiri pergantian tahun titik pentingnya  ada pada intropeksi diri, jika kata Nabi Muhammad S.A.W, orang yang paling beruntung adalah orang yang lebih baik daripada hari kemarin, orang yang merugi adalah orang yang sama saja dengan hari kemarin, dan orang yang celaka adalah orang yang lebih buruk daripada hari kemarin. Apakah kita sudah termasuk orang-orang lebih baik dari hari kemarin ?

Ada cita-cita dan harapan baru yang harus dicapai sebenarnya disetiap pergantian hari bukan hanya dipenghujung tahun Masehi kita mencanangkan resolusi baru. Ada cita-cita berarti bakal ada usaha lebih yang harus kita upayakan untuk mencapainya dan usaha itu pantasnya diintropeksi disetiap penghujung pergantian hari. Sudah benarkah usaha yang kita lakukan ? Sudah maksimalkah usaha yang kita upayakan ? Pantaskah kita mendapatkan apa yang kita usahakan ?

Sekedar Saja

[Iseng] BGP dengan GNS3 di Ubuntu 10.10

Border Gateway Protocol yang dikenal dengan Dynamic Routing Protocol yang dapat menghubungkan beberapa Autonomous System (AS), lebih detail tentang AS dapat dilihat disini

BGP termasuk dalam Dynamic Routing Protocol jenis Exterior Gateway Protocol (EGP) yang dapat mendistribusikan beberapa Dynamic Routing Protocol jenis Interior Gateway Protocol (IGP) seperti RIP, EIGRP maupun OSPF.

Lebih dalam mengenai BGP dapat dibaca2 disini

Oke.. langsung saja…

Saya mengganggap anda sudah cukup mahir dengan Linux Ubuntu, berikut langkah-langkah “bermain-main” BGP dengan GNS3

1. Install dulu GNS3-nya via apt-get :

$sudo apt-get install gns3

Atau anda dapat menginstall dari source dengan mendownload GNS3 terlebih dahulu disini

2. Jalankan gns3 dari Applications -> Accessories -> gns3 Graphical Network Simulator

3. Download Cisco IOS, nyari sendiri disini ya.. :p

4. Tambahkan IOS Image yang sudah anda download, caranya : Klik Edit -> IOS Images and Hypervisors . Pada tab IOS Images tambahkan IOS Images pada Settings -> Image File . Klik tombol (…) untuk menambahkan IOS Image. Lalu klik tombol Save

Tampilan IOS Images saya seperti ini :

5.   Tambahkan 3 Cisco Router Serie 3600 (sesuaikan dengan IOS Images yang anda tambahkan), tambahkan juga 3 Switch

6.  Klik kanan pada Router dan pilih Configure, pilih R1 kemudian pilih tab Slots untuk menambahkan interface FastEthernet pada Adapters. Tambahkan pada Slot 0, 1 dan 2 lalu klik OK. Maka akan terlihat seperti dibawah ini :

Lakukan hal yang sama dengan 2 Router lainnya (R2 dan R3)

7. Hubungkan dengan menggunakan Interface FastEthernet (Gunakan tombol Add link disebelah kiri tomboh jam (Snapshot) :

- R1 ke R2, R1 ke R3, R1 ke SW1

- R2 ke SW2

- R3 ke SW3

Sehingga tampak seperti gambar berikut ini :

Keterangan lengkap untuk AS-Number dan IP Address sebagai berikut :


8. Klik tombol Play untuk menghidupkan Router

9.  Klik kanan pada R1 lalu pilih Console, ketikan no pada initial configuration dialog ini mencegah kita untuk melakukan konfigurasi secara Wizard.

Konfigurasi dasar pada R1 :

Konfigurasi dasar pada R2 :

Konfigurasi dasar pada R3 :

10.Konfigurasi BGP di setiap Router :

R1 :


R2 :


R3 :


11. Verifikasi Routing Table dan Neighbor BGP :

Jangan lupa untuk menyimpan konfigurasi anda dengan perintah :

R1#copy running-config startup-config

R2#copy running-config startup-config

R3#copy running-config startup-config

Selesai…. :D

http://img220.imageshack.us/img220/2540/r3bgp.jpg
Linux, Networking